Monday, September 06, 2010

IT Days 2010

Dua hari satu malam yang mengakrabkan

27-28 Januari 2010, Program Studi saya mengadakan suatu acara bernama IT Days 2010. Program fellowship ini diadakan selama 2 hari 1 malam yang singkat. Bukan program yang terlalu menarik sih, tapi saya tetap ikut supaya bisa membaur dengan angkatan-angkatan bawah terutama 2009 yang sama sekali nggak kenal. Yah, setidaknya HMP (Himpunan Mahasiswa Prodi) tahun ini lebih aktif daripada waktu saya menjabat tahun lalu lah. Haha… Overall, kegiatan ini adalah fellowship dari program kerja HMP digabung dengan acara study tour dari program kerja Prodi. Jadi akan ada acara senang-senang digabung dengan acara yang formal, plus bakti sosial.

Pendaftaran kegiatan ini, yang notabene sampe keluar kota, terbilang cukup murah. Cuma 40rb untuk kegiatan ditambah 5rb untuk bakti sosial. Biaya ini bisa ditekan dengan subsidi dari prodi, dengan uang hasil Prodi of the Year. Terjadi sedikit konflik akibat teman-teman saya yang sudah daftar tapi telat bayar. Ceritanya, jumlah peserta untuk acara ini memang dibatasi karena kapasitas bus untuk transportasi. Teman saya sudah daftar di awal-awal, tapi belum bayar sampai batas waktu. Awalnya sih mereka nggak dibolehin ikut, tapi dengan sedikit speaking, akhirnya bisa juga. Kalo mereka nggak ikut, bisa hambar nih acara IT Days buat saya.

Hari pertama, berangkat jam 7 pagi dari kampus menuju Coban Rondo, di daerah Pujon. Sampai di sana, setelah beres-beres, langsung masuk ke acara serius dulu. Ada open forum yang sebenarnya adalah kuliah santai dari dosen-dosen prodi. Cukup menarik, dengan topik AI dan 10rb hours dari . Habis itu, istirahat bentar, makan siang, dan persiapan game.

Saya pikir game-nya bakal seperti outbound yang berkotor-kotor dan agak “keras”. Eh, tapi dasar panitia-nya ternyata nggak ada yang pengalaman, jadinya game-nya biasa aja deh. Saya kebetulan masuk di kelompok 8 dan jadi ketua (WTF, mesti saya yang ditunjuk). Dengan yel-yel khas dengan judul “nggak ada yel-yel”, kelompok saya bisa sukses melewati game-game yang ada di urutan pertama. Cuma ada 3 game sih, dan semuanya bisa dibilang sangat gampang dan kurang menantang (habisnya kan udah pernah game lainnya). Di akhir acara, ternyata kelompok saya dinobatkan jadi kelompok juara, bersama 1 kelompok lainnya. Lumayan lah, dapat Silver Queen mini gratisan.

Game berakhir di Coban-nya. Karena nggak bawa duit, akhirnya mengurungkan niat untuk beli jagung bakar dan bakso di sana. Yah, udah beberapa kali ke Coban Rondo sih, jadinya nggak ada yang terlalu spesial. Teman-teman yang lain juga nggak ada yang mau “keceh” di air. Udah gitu gerimis lagi, bikin suasana tambah nggak enak. Tapi, jadi inget waktu perpisahan kelas SMP deh. Barusan buka-buka lagi fotonya, ternyata tampang saya waktu itu bener-bener polos, culun, dan nggak berkarakter. Haha…

Selesai itu, acara bebas sampai makan malam jam setengah 7. Saya dan teman-teman memutuskan untuk jalan-jalan menghabiskan waktu sambil nyari sapa tahu ada yang jual makanan. Waktu jalan-jalan, ada bakso lewat. Langsung aja diserbu sama kita-kita. Haha… Habis itu, saya maksain mandi soalnya badan udah pliket semua. Airnya? Jelas dingin buanget lah, sampe beku nih. Udah gitu, kamar mandi yang notabene kotor dan nggak ada cantolan buat baju, bikin saya manjat bak mandi untuk nyantolin di rangka atap.

Malamnya, ada sesi api unggun, yang dinamakan sesi sharing. Banyak yang pingin saya omongkan di sesi itu. Tapi karena waktu yang nggak mendukung, dan suasana yang sulit untuk menjadi pusat perhatian, beberapa saya urungkan. Habis itu, ada sesi potluck snack yang telah dikumpulkan ke panitia waktu pertama kali datang.

Kita semua tidur di tenda panitia, yang bahkan waktu siang bisa ada sinar yang menembus masuk dari lubang-lubang. Untungnya, waktu itu nggak turun hujan terlalu deras, jadi nggak bocor. Dengan kapasitas tenda yang hanya segitu, peserta tidur benar-benar kayak ikan pindang. Sudah gitu ada yang tidur di bus juga. Saya niatnya tidur di bus, tapi gara-gara keterusan main UNO sama anak-anak lain di tenda, jadi gagal untuk tidur di bus, soalnya sudah penuh. Urusan listrik, suck!! Meski ada stop kontak, ternyata di atas jam 10 udah dimatikan dari pusat. Padahal pingin nge-charge HP, jadi nggak bisa. Main UNO pun diterangi pake HP sendiri-sendiri. Sampe sekitar jam 12an, dan jam setengah 1 saya baru bisa tidur.

Ya ampun, jam 3 ternyata teman-teman yang lain sudah pada bangun dan main kartu lagi. Jadi nggak bisa tidur nyenyak, padahal kualitas tidurnya aja udah jelek. Jam 4an, itu saat-saat udara dingin turun ke bumi. Wuih, nggak nguati. Alhasil, jam setengah 6 saya sudah bangun, dan langsung antri kamar mandi. Udah “BT” dan emang jam-nya mandi. Pagi-pagi, ternyata airnya malah lebih dingin daripada waktu sore. Air dingin serasa air panas waktu kena kulit. Nyelekit banget.

Setelah itu, kita berangkat ke panti asuhan di deket sana, tapi saya lupa namanya. Yang sedikit saya sesalkan dan cukup lucu juga, karena sebagian mahasiswa Ma Chung itu non-islam, nggak tahu kalo jalan yang dilewati ada di pinggir musholla panti. Jadinya mereka nginjak-nginjak lantai luar yang sebenarnya suci. Yah, dimaklumi lah, wong nggak ngerti. Di sana, kita adakan acara bakti sosial singkat, memberikan sumbangan untuk anak-anak panti. Miris yah, kalo membayangkan saya yang jadi mereka.

Habis itu, kita semua lanjut ke acara Study Tour ke Graha Pena, kantor pusat Jawa Pos yang ada di Surabaya. Di sana dijelaskan gimana proses IT yang ada di industri percetakan. Lumayan ruwet juga yah perjalanannya. Nggak kebayang seberapa banyak pengalaman orang IT yang udah dari awal ada di Jawa Pos itu. Kantor redaksi Jawa Pos, bisa dibilang bagus. Desain ruangan yang unik, bikin betah kerja di sana. Komputernya sebagian besar pake Mac. Di Jawa Pos, nggak lama, cuma sekitar 1,5 jam terus pulang.

Ya, itu acara terakhir dari rententan IT Days. Yang saya rasakan sih, secara keseluruhan masih kurang membekas di ingatan peserta. Tapi lumayan lah, saya jadi kenal adik-adik angkatan yang biasanya nyapa pun nggak pernah. Ternyata anak IT itu “gila-gila” juga yah. Saya lihat juga, diantara panitia nggak ada yang benar-benar berpengalaman ngadain acara fellowship atau games yang kayak itu. Rentetan acara pun juga kurang mengena. Tapi, secara overall sudah lebih baik dari tahun lalu lah. Semoga tahun depan bisa lebih baik lagi dan saya bisa ikut juga (kan waktunya PKL).

Habis itu, perjalanan pulang kembali ke Malang. Waktu di bus, ada pengumuman dari panitia. Ada anak yang turun duluan ternyata salah ngambil tas. Wah, sedikit kepikiran nih. Dan ternyata benar, waktu sampe di kampus, saya cari tas saya di bagasi ternyata nggak ada. Waktu dikonfirmasi ke panitia, tas yang kebawa itu merk Eiger dengan jaket hijau di dalamnya. Punya saya tuh. Untungnya anaknya mau nunggu di perempatan galunggung. Tapi kasihan juga, lha wong saya belum dijemput, jadi nggak bisa segera ke galunggung. 20 menit kemudian baru saya dijemput. Yah, nasib lah. Sama-sama sial. Tas saya kebawa, dianya harus nunggu saya datang. Sampe rumah, ternyata jam 10 saya sudah ketiduran.

Tags: ,

Comments are closed.
blog comments powered by Disqus
 

My Tweets

Banners

Tag Cloud

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes