How Do the Big Five Traits Predict Work Behaviour?
Posted by Haqqi in Piece of Cake Saturday, 10 April 2010 16:38 View Comments
Tulisan ini sebenarnya adalah tugas mata kuliah Perilaku Organisasi saya. Daripada hanya sekedar dinilai dosen saja, mending saya post supaya bisa dibaca siapa pun yang ingin membaca.

Setiap orang, terutama dalam sebuah organisasi, memiliki gaya dan perilakunya masing-masing yang berbeda-beda. Untuk dapat bekerja secara efektif dengan orang lain, perlu untuk memahami karakteristik bagaimana perbedaan seseorang dalam berperilaku. Perbedaan cara orang berperilaku salah satunya dipengaruhi oleh kepribadian (personality) seseorang tersebut. Kepribadian sendiri dapat terlihat dalam berbagai bentuk. Beberapa orang dapat dikatakan perfeksionis, mereka sangat kritis, selalu menuntut, tidak sabaran, namun sangat kuat pendiriannya. Sedangkan beberapa orang lain cenderung santai dan easygoing.
Kepribadian (personality) dapat diartikan sebagai pola cara seseorang dalam merasakan, berpikir, dan berperilaku, serta bereaksi terhadap lingkungan sekitar. Saat ini kepribadian sudah menjadi faktor penting bagi organisasi/perusahaan dalam melakukan perekrutan seorang calon karyawan.
Kepribadian setiap orang dipengaruhi oleh dua hal, yaitu secara alami (nature) dan secara didikan (nurture). Namun, berdasarkan penelitian, sebagian besar pengaruh tersebut terletak pada nature atau sifat genetis orang tersebut. Perbedaan kepribadian akan membuat setiap orang memberikan reaksi yang berbeda-beda terhadap suatu situasi dan kondisi.
Big Five Traits
Karena kepribadian merupakan hal yang menentukan bagaimana orang merasakan, berpikir, dan berperilaku, akan sangat membantu jika dilakukan pengelompokan antara kepribadian yang berbeda. Para peneliti telah menghabiskan banyak waktu mereka untuk dapat mendefinisikan tipe-tipe kepribadian manusia tersebut. Salah satu cara terpenting dalam mendefinisikan kepribadian seseorang adalah melalui sifatnya (trait). Para peneliti menemukan sifat kepribadian, dan para psikologis setuju bahwa sifat-sifat tersebut dapat dikelompokkan menjadi hirarki yang lebih umum.
Akhirnya pengelompokan tersebut menjadi model Big Five Traits, dimana terdapat 5 sifat utama yang ada pada urutan teratas hirarki. Sifat-sifat tersebut adalah extraversion, agreeableness, conscientiousness, neuroticism, dan openness to experience. Kelima sifat tersebut merupakan sifat yang umum, sehingga dapat mendeskripsikan kepribadian seseorang tanpa memperhatikan umur, jenis kelamin, suku, bangsa, agama, maupun latar belakang sosial. Penilaian sifat-sifat tersebut berdasarkan apakah seseorang memiliki masing-masing sifat yang tinggi, sedang, atau kurang.
Extraversion
Extraversion adalah sifat kepribadian yang berhubungan dengan emosi dan perasaan senang terhadap dirinya sendiri serta lingkungan di sekitarnya. Orang dengan extraversion tinggi disebut dengan extrovert. Sebaliknya, orang dengan extraversion rendah disebut dengan introvert. Dalam organisasi, para extrovert cenderung untuk bersosial, mudah berteman, dan senang menjadi pusat perhatian. Sebaliknya, introvert cenderung menyendiri, jarang berteman, dan menjaga privasi dirinya sendiri.
Terdapat suatu kesalahan konsep yang mengatakan bahwa introvert adalah orang yang pemalu dan penyendiri. Sebenarnya, mereka lebih tepat dikatakan sebagai orang yang memilih-milih lingkungan sosialnya. Seorang introvert mungkin saja sama sekali bukan pemalu, namun memang memilih untuk melakukan aktifitas yang tidak terlalu menyentuh bidang sosial.
Para extrovert cenderung akan lebih suka bekerja dalam kelompok, atau pekerjaan dimana dia akan bertemu dengan banyak orang. Mereka akan memilih untuk melakukan aktifitas yang berhubungan dengan hubungan sosial, seperti pesta, kegiatan komunitas, bisnis, atau politik. Sedangkan introvert akan lebih suka bekerja sendiri, atau dengan orang-orang yang setipe dengannya. Bekerja di balik layar juga akan menjadi salah satu pilihan bagi para introvert.
Agreeableness
Agreeableness adalah sifat kepribadian yang berhubungan dengan apakah orang tersebut mudah menerima suatu hal, ataukah mudah curiga. Orang dengan agreeableness tinggi, sangat perhatian dan mudah memberikan bantuan untuk orang lain. Sebaliknya, orang dengan agreeableness rendah cenderung sulit percaya, mudah curiga, suka berprasangka buruk, dan biasanya kasar.
Orang dengan agreeableness akan mudah diterima dalam sebuah tim atau kelompok. Mereka cocok untuk dimasukkan dalam pekerjaan yang membutuhkan jiwa saling membantu tinggi. Namun, orang dengan agreeableness rendah belum tentu akan bernasib buruk. Mereka akan cocok untuk ditempatkan di jenis pekerjaan yang antagonis dan membutuhkan sedikit kekejaman, seperti penagih hutang dan sebagainya.
Conscientiousness
Conscientiousness, atau kesadaran, berkatan erat dengan apakah orang tersebut perhatian, cermat, dan gigih. Orang dengan conscientiousness tinggi akan sangat terorganisir dan biasanya memiliki aturan sendiri bagi dirinya. Mereka akan cocok berada pada posisi planner (perencana). Sebaliknya, orang dengan conscientiousness rendah akan tidak terarah dan kurang disiplin. Namun demikian, bukan berarti mereka adalah pemalas, melainkan orang yang kurang memiliki tujuan, kurang tertarik dengan kesuksesan, dan suka bertindak secara spontan.
Conscientiousness sudah menjadi parameter penting dalam perekrutan pegawai. Sebab orang dengan conscientiousness tinggi biasanya lebih terorganisir, terencana, pekerja keras, dan berhati-hati. Sayangnya, jika memiliki conscientiousness berlebihan, akan menjadikan orang tersebut perfeksionis.
Conscientiousness berhubungan dengan performa seseorang juga. Orang dengan conscientiousness rendah biasanya juga suka menunda-nunda pekerjaan. Hal ini akan cukup merugikan organisasi dimana dia bekerja.
Neuroticism
Neuroticism sering dikaitkan dengan stabilitas emosi. Orang dengan neuroticism tinggi akan mudah terganggu, moody, mudah stress, mudah marah, dan sering khawatir. Orang dengan sifat seperti ini akan akan sangat sulit untuk merasa puas dalam pekerjaannya. Kebanyakan mereka akan bekerja secara terpaksa. Sedangkan, orang dengan neuroticism rendah akan lebih santai, tenang, emosi yang stabil, dan jauh dari pikiran buruk.
Namun, orang dengan neuroticism tinggi juga membawa dampak positif. Sebab mereka akan sangat perhatian terhadap performa kerjanya, dan bahkan cenderung kritis dalam menilai. Hal ini membuat mereka sangat cocok pada kondisi dimana dibutuhkan pemikiran kritis, quality control, dan evaluasi. Mereka akan berusaha memperoleh ketenangan dalam pengambilan keputusan dengan cara memberikan penilaian negatif terhadap keputusan yang ditawarkan, sehingga diharapkan akan dapat mengurangi resiko kegagalan.
Openness to Experience
Bagian terakhir dari Big Five Traits adalah openness. Orang dengan openness to experience tinggi akan mampu berpikir luas, memiliki apresiasi yang tinggi terhadap seni, ide baru, emosi, dan sensitif terhadap keindahan. Orang dengan openness rendah, cenderung tertutup dengan hal baru dan lebih suka mengerjakan sesuatu dengan cara tradisional dan konvensional. Jalan pemikiran mereka datar dan lurus.
Openness tinggi akan sangat mendukung pekerjaan yang berhubungan dengan kreativitas, peluang, dan seni. Para entrepreneur sukses kebanyakan memiliki sifat openness yang tinggi. Sebab mereka akan mudah menelurkan suatu ide baru dengan cara-cara yang baru pula, serta tidak takut mengambil resiko. Openness tinggi memang sangat menguntungkan. Namun demikian, terkadang ada pekerjaan yang membutuhkan orang dengan openness rendah. Sebab adanya kreativitas yang terlalu tinggi malah akan menghancurkan sistem yang sudah ada. Orang dengan openness rendah sangat cocok ditempatkan pada pekerjaan yang berhubungan dengan rutinitas, namun aman bagi masa depannya. Tidak ada hubungan antara openness dengan neuroticism. Kedua hal tersebut merupakan sifat yang berbeda permasalahannya.
Kesimpulan
Penelitian telah menyebutkan bahwa Big Five Traits akan sangat mempengaruhi cara kerja seseorang. Memahami bagaimana sifat orang bekerja juga menjadi hal yang penting bagi organisasi. Dengan mengetahui kepribadian seseorang tersebut, akan terjadi keseimbangan dalam penempatan posisi kerja. Sebagai contoh, orang dengan neuroticism tinggi akan cocok ditempatkan pada posisi quality control dan evaluasi.
Tidak ada orang yang dikatakan memiliki profil kepribadian baik atau buruk. Setiap orang adalah unik dan memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Baik buruknya penilaian orang lain terhadap kinerja seseorang bukanlah karena kepribadian orang tersebut, melainkan karena kesesuaian posisi orang tersebut dalam pekerjaannya.
Daftar Pustaka
George, J.M. and Jones, G. 2008. Understanding and Managing Organizational Behavior. 5th ed. New Jersey: Pearson Education Inc.
http://en.wikipedia.org/wiki/Big_Five_personality_traits. diakses pada 3 April 2010.
http://en.wikipedia.org/wiki/Openness_to_experience. diakses pada 3 April 2010.
http://en.wikipedia.org/wiki/Conscientiousness. diakses pada 3 April 2010.
http://en.wikipedia.org/wiki/Extroversion_and_introversion. diakses pada 3 April 2010.
http://en.wikipedia.org/wiki/Agreeableness. diakses pada 3 April 2010.
http://en.wikipedia.org/wiki/Neuroticism. diakses pada 3 April 2010.



