<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>HQ&#039;s Serenity &#187; Economy</title>
	<atom:link href="http://fauzilhaqqi.net/tag/economy/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://fauzilhaqqi.net</link>
	<description>Muhammad Fauzil Haqqi&#039;s Personal Blog</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Aug 2010 02:55:48 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Mengemis dengan Amplop</title>
		<link>http://fauzilhaqqi.net/2010/07/mengemis-dengan-amplop/</link>
		<comments>http://fauzilhaqqi.net/2010/07/mengemis-dengan-amplop/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Jul 2010 06:04:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haqqi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Piece of Cake]]></category>
		<category><![CDATA[Economy]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fauzilhaqqi.net/?p=341</guid>
		<description><![CDATA[Meski nggak berpendidikan, manusia memang semakin pintar
Pengalaman ini baru untuk saya. Yah, notabene saya memang jarang sekali naik bus keluar kota. Karena saya PKL di semen gresik, dan sabtu minggu pasti pulang, jadi mau nggak mau ya mengalami ini. Sebenernya cerita ini nggak penting-penting banget sih, tapi lumayan lah buat iseng-iseng posting.
Ceritanya waktu saya pulang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="highlight-red"><strong>Meski nggak berpendidikan, manusia memang semakin pintar</strong></span></p>
<p>Pengalaman ini baru untuk saya. Yah, notabene saya memang jarang sekali naik bus keluar kota. Karena saya <a href="http://fauzilhaqqi.net/2010/06/pkl-di-semen-gresik-part-1/" target="_blank">PKL di semen gresik</a>, dan sabtu minggu pasti pulang, jadi mau nggak mau ya mengalami ini. Sebenernya cerita ini nggak penting-penting banget sih, tapi lumayan lah buat iseng-iseng posting.</p>
<p>Ceritanya waktu saya pulang dari Gresik ke Malang, lewat jalur Surabaya. Habis naek angkot, berikutnya naek bus kota dari osowilangun ke bungurasih. Di sinilah awal mula cerita itu.<br />
<span id="more-341"></span><br />
Setelah beberapa ratus meter perjalanan, ada seorang anak kecil tiba-tiba berdiri di bagian depan bus, menghadap ke penumpang. Dia bilang kalo lagi butuh bantuan. Nggak lama, dia jalan menyusuri lorong, ke setiap sang penumpang yang ada. Dia membagikan amplop dengan tulisan tangan.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-342 aligncenter" title="Amplop" src="http://fauzilhaqqi.net/wp-content/uploads/2010/07/45-amplop.jpg" alt="" width="320" height="240" /></p>
<p>Mungkin nggak terlalu jelas karena kecil, tapi begini kata-katanya:</p>
<blockquote><p>Sebelumnya kami minta maaf kepada bapak ibu mas dan mbak. Kami mohon kepada para penumpang sekalian agar sudi kiranya mau membantu kami untuk menyisihkan sedikit rizki kepada kami untuk membantu adik kami yang masih sekolah dan membantu ibu kami yang lagi pusing memikirkan untuk membelikan susu buat adik kami yang masih kecil.</p></blockquote>
<p>Wah-wah, semakin beradab pula pengemis negeri ini ya. Dan lucunya, yang saya foto itu bukan kali pertama kali, tapi sudah ketiga kalinya saya nemuin hal serupa. Yang pertama dari seorang bapak-bapak, dengan amplop dan tulisan berbeda. Tapi tetep di bus yang sama, bus kota Damri jurusan bungurasih-osowilangun. Yang kedua, anak ABG. Isi kata-katanya persis seperti yang di atas. Yang ketiga, ya yang difoto itu, dibagikan oleh anak yang lebih kecil.</p>
<p>Nggak tahu apakah itu benar, atau cuma akal-akalan pengemis, saya sih kasih duit aja barang 1000 rupiah dengan niat shodaqoh.</p>
<p>Setelah beberapa lama, anak kecil itu ngambilin amplop-amplop yang sudah dibagi. Yang ada isinya ditaruh di tumpukan bawah di tangannya, yang gak ada isinya ditaruh di atas. Terlatih banget kelihatannya.</p>
<p>Coba pikir, seandainya setiap jam ada 4 bus kota keluar dari terminal, dia masuk ke 2 saja, dalam sehari ada 10 jam kerja, berarti 2&#215;10=20 bus dia kelilingi. Jika setiap bus paling nggak dapat 5rb, berarti 5rbx20=100rb dalam sehari. Anggap margin paling besar lah, 50rb. jadi antara 50rb-150rb. Sehari sudah dapat segitu. Itu kalau cuma dia sendiri yang keliling. Kalau ada keluarganya yang lain, sudah dapat berapa?</p>
<p>Duit segitu banyaknya kalau dikumpulkan mestinya bisa jadi modal usaha. Tapi nyatanya pengemis juga tetep aja banyak. Mau jadi apa negeri ini?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fauzilhaqqi.net/2010/07/mengemis-dengan-amplop/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Uang Cash, Kartu Debit, atau Kartu Kredit?</title>
		<link>http://fauzilhaqqi.net/2010/03/uang-cash-kartu-debit-atau-kartu-kredit/</link>
		<comments>http://fauzilhaqqi.net/2010/03/uang-cash-kartu-debit-atau-kartu-kredit/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Mar 2010 02:17:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haqqi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Useful Tips]]></category>
		<category><![CDATA[Economy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.fauzilhaqqi.net/?p=195</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah wacana yang cukup menarik bagi Anda

Sebagai orang yang bukan dari background ekonomi, sedikit banyak saya penasaran, kenapa yah kok ada kartu debit dan kredit? Kenapa kok nggak nabung dulu aja terus beli pakai uang cash daripada pakai kartu kredit yang berbunga? Ya, itu pertanyaan wajar karena saya bukan orang yang mengerti ekonomi. Tapi setelah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="highlight-red"><strong>Sebuah wacana yang cukup menarik bagi Anda</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-196 aligncenter" title="22-kartu" src="http://www.fauzilhaqqi.net/wp-content/uploads/2010/03/22-kartu.jpg" alt="" width="400" height="300" /></p>
<p>Sebagai orang yang bukan dari background ekonomi, sedikit banyak saya penasaran, kenapa yah kok ada kartu debit dan kredit? Kenapa kok nggak nabung dulu aja terus beli pakai uang cash daripada pakai kartu kredit yang berbunga? Ya, itu pertanyaan wajar karena saya bukan orang yang mengerti ekonomi. Tapi setelah baca-baca beberapa artikel, saya mulai mengerti pembelanjaan yang bagaimana yang pas di suatu kondisi. Ada kelebihan dan kekurangan pembelanjaan dengan cash, kartu debit, maupun kartu kredit.</p>
<p>Sebagai gambaran, uang cash adalah uang yang dapat dengan mudah habis. Kebanyakan orang yang memegang banyak uang cash akan dengan mudah terdorong untuk menghabiskannya. Lagipula, jika Anda kehilangan uang cash, bisa dipastikan uang itu hilang tanpa jejak. Berbeda dengan memakai kartu kredit atau debit. Segala bentuk transaksi akan dengan mudah terlacak.<br />
<span id="more-195"></span><br />
Baik kartu kredit maupun debit memiliki banyak kelebihan, salah satunya adalah kepemilikan yang jelas akan kartu tersebut. Bahkan kartu kredit memberikan proteksi tambahan. Dalam Fair Credit Billing Act, pemilik kartu kredit yang kecurian hanya dikenakan pertanggungjawaban maksimal $50 dari seluruh pembelian.  Terlebih lagi, banyak kartu kredit yang secara otomatis memberikan garansi tambahan terhadap barang yang Anda beli.</p>
<p>Hampir sama dengan kartu kredit, kartu debit juga memiliki tingkat keamanan yang cukup tinggi. Di Amerika, di bawah undang-undang Electronic Fund Transfer Act, pemegang kartu debit hanya dibebankan $50 jika ada orang lain yang mencuri isi kartu tersebut, berapapun banyaknya selama pemilik melaporkan kasus tersebut dalam 2 hari. Selain itu, kartu debit juga menggunakan PIN yang hanya diketahui pemilik sehingga jika kartu tersebut tercuri juga tidak akan ada gunanya.</p>
<p>Uang cash dan kartu debit sendiri memiliki kelebihan dibandingkan kartu kredit. Jelas sekali bahwa penyedia layanan kartu kredit mendapatkan laba dari bunga yang dikenakan setiap penggunaannya, dan biasanya bunga setiap bulan. Penggunaan uang cash jelas tidak akan dikenakan biaya apa-apa. Demikian pula dengan penggunakan kartu debit. Tapi hati-hati, di beberapa toko yang menyediakan metode pembayaran kartu debit, Anda akan tetap dikenakan charge untuk setiap penggunaannya.</p>
<p>Secara keseluruhan, kartu debit-lah pemenang dalam pilihan metode pembayaran. Selain keamanan dan penggunaan yang tanpa dikenakan biaya, secara psikologis kartu debit membuat pengguna tidak menjadi foya-foya dengan mengambil berlebihan.</p>
<p>Jika Anda seorang shopaholic yang ingin tetap hemat, gunakanlah uang cash. Sebuah studi psikologi menyebutkan bahwa orang yang menggunakan uang cash akan lebih terhindar dari penggunaan yang sembrono dan berlebihan. Ini akibat dari &#8220;pain of paying&#8221;, yang berkaitan dengan wujud uang cash tersebut. Jika melakukan pembayaran dengan uang cash, secara otomatis Anda akan melihat uang tersebut pergi dari Anda. Berbeda dengan kartu kredit dan debit, transaksi akan terjadi secara tidak terlihat. Dan &#8220;pain&#8221; tersebut akan datang kemudian, pada saat tagihan kartu kredit sampai ke tangan Anda, atau saat Anda melihat kartu debit Anda sudah kehabisan saldo.</p>
<p>Kekurangan fatal dari uang cash yang paling fatal adalah, uang cash yang ditemukan dalam dompet yang hilang atau tercuri, kemudian diambil, tidak dapat dengan mudah diakui kepemilikannya. Tidak demikian dengan kartu kredit dan debit.</p>
<p>Informasi lebih lanjut mengenai artikel ini:</p>
<ul class="special-3">
<li><a href="http://money.howstuffworks.com/currency.htm" target="_blank">How Currency Works</a></li>
<li><a href="http://money.howstuffworks.com/personal-finance/debt-management/credit-report.htm" target="_blank">How Credit Reports Work</a></li>
<li><a href="http://money.howstuffworks.com/personal-finance/debt-management/credit-card.htm" target="_blank">How Credit Cards Work</a></li>
<li><a href="http://money.howstuffworks.com/personal-finance/banking/debit-cards.htm" target="_blank">How Debit Cards Work</a></li>
<li><a href="http://money.howstuffworks.com/personal-finance/banking/bank.htm">How Banks Work</a></li>
<li><a href="http://money.howstuffworks.com/personal-finance/banking/bank-closes-down.htm" target="_blank">What happens to my money if my bank closes down?</a></li>
</ul>
<p><span class="note">Sumber: <a href="http://money.howstuffworks.com/personal-finance/banking/cash-credit-or-debit.htm" target="_blank">di sini</a></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fauzilhaqqi.net/2010/03/uang-cash-kartu-debit-atau-kartu-kredit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
